Remaja Alay

Belum lama berselang, di sebuah Mall, lewat di depanku serombongan remaja putra dan putri, kira-kira usia SMP-SMA. Gaya mereka sebagaimana kebanyakan gaya remaja masa kini, rambut di cat, gaya pakaian ketat dan terbuka di beberapa bagian, sambil memainkan Hp bahkan BB. Mungkin inilah sebagian dari ‘remaja-remaja alay’, menurutku. Mungkin mereka mencoba berpenampilan ‘trendy’, tapi –maaf- wajah dan penampilan itu tidak bisa menyembunyikan bahwa mereka terlihat berasal dari kalangan menengah ke bawah.
Aku jadi teringat sebuah tayangan reality show di sebuah Televisi Nasional terkemuka beberapa waktu yang lalu. Judul tayangan itu tentang Fenomena Remaja ‘ Alay’ di Jakarta. Ditampilkan sosok seorang remaja (putri) alay; berasal dari keluarga tidak mampu, rumah hanya terdiri dari satu ruang berukuran kira-kira 3×3 m persegi, anak tertua dari 4 bersaudara, ibunya bekerja sebagai PRT, ayahnya sebagai pedagang asongan. Ditampilkan bagaimana gaya hidup sang anak bersama teman-temannya. Berusaha ‘gaul’ dan ‘trendy’; memakai make-up ‘murahan’, tidak bersekolah, favorit mereka adalah artis-artis terkenal, mereka sering mengikuti acara-acara live show di TV (dengan dibayar tentu saja), seperti acara ‘Dasyat’ dan semacamnya.
Fenomena ‘alay’ ini juga nampak di depan mataku, di lingkungan tempat aku tinggal. Remaja ini mencoba berprilaku ‘gaul’ dan ‘trendy’, dengan gaya hidup yang dibuat-buat (baca : dipaksakan) terlihat ‘keren’. Kontras dengan kondisi keluarga dan lingkungan tempat mereka tinggal. Alih-alih ‘enak dilihat’, malah lebih sering mendapatkan sorotan negatif dari masyarakat.
Apa itu’ Alay’?
Alay adalah singkatan dari “anak layangan”, yang diartikan sebagai anak kampung, kampungan atau norak. Sebagian menyebutnya “anak lebay” yang suka berlebihan dan sok eksis. Sebagian lain menyebutnya juga “Anak Klayaban”. Beberapa tahun terakhir ini istilah Alay semakin santer terdengar. Mereka adalah anak-anak remaja yang terbawa arus trend modernisasi Barat (globalisasi) saat ini yang datangnya tidak difilter dengan baik. Ada yang mengatakan bahwa sosok anak layangan ini tercipta karena banyaknya anak-anak kampungan yang hobi nongkrong di pinggir jalan dengan gaya setinggi langit, mengucapkan kata-kata kasar, dan menggoda orang lewat. Salah satu ciri fisiknya memiliki rambut berwarna merah, yang diindikasi karena mereka hobi main layangan.
Dalam pandangan psykholog, Alay mempunyai arti sebagai berikut.
Menurut Koentjara Ningrat, “Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia, yang ingin diakui statusnya diantara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakain, sekaligus meningkatkan kenarsisan, yang cukup mengganggu masyarakat dunia maya (baca: Pengguna internet sejati, kayak blogger dan kaskuser). Diharapkan Sifat ini segera hilang, jika tidak akan mengganggu masyarakat sekitar”
Sedangkan menurut Selo Soemaridjan, “Alay adalah perilaku remaja Indonesia, yang membuat dirinya merasa lebih keren, cantik, hebat diantara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat Rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkan bisa melalui media TV (sinetron), dan musisi dengan dandanan seperti itu.”

Dalam perbincangan dialog pagi di Radio DS FM Solo hari Jum’at 14 Oktober 2011, diangkat tema “Fenomena Anak Alay”, dengan menghadirkan dua narasumber penulis buku remaja, yaitu Ustadz Burhanshodiq dan Sosiolog dari Jakarta Dr. Musni Umar.

Menurut Burhansodiq, fenomena Alay adalah gejala diantara remaja Indonesia dimana mereka ingin terlihat eksis atau diakui, dengan mengubah gaya-gaya mereka, termasuk gaya tulisannya, gaya berpakaiannya sekaligus meningkatkan ke-narsissannya. Trend penulisan Alay ini dimulai pada penulisan-penulisan bahasa SMS dan di dunia maya atau internet. “Mereka ini seperti layangan, yang mudah sekali terbawa angin, mudah sekali terbawa arus,” ujar Burhansodiq.

Sementara itu, Dr. Musni Umar mengatakan fenomena Alay ini tidak menjadi masalah pada remaja itu, tapi di masa depan akan menjadi persoalan tersendiri. Anak-anak Alay ini adalah remaja yang tidak punya identitas diri. Lebih lanjut Dr. Musni juga menyinggung fenomena Alay ini berhubungan dengan kekuatan iman masyarakat Indonesia yang harus dibangun. Karena dengan kekuatan iman akan melahirkan optimisme.  Karena menurut beliau, anak-anak Alay ini tidak mempunyai sikap optimisme dalam menjalani hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s